Cemooh Si Gila
Angin sepoi bertiup mengalun bersama dengan riuh rendah desir suara dedaunan. sekilas, terdengar simfoni
cicit burung-burung yang mengangkasa, bersahutan dengan kokok ayam yang
menandakan gelap sudah berganti terang. Kesejukkan yang datang sehabis
hujan-semalam-mengikutsertakan kedamaian. Kedamaian yang berarti sepi, lancar, sunyi, renggang,
sejenak menenangkan kegaduhan kota ini. Tidak ada polusi. Tidak ada kebisingan. Tidak pula kemacetan. Yang
tampak hanya sketsa kota pedesaan tanpa sawah dan pegungunan,
bukan metropolitan. Semua yang diidamkan untuk kota ini, terlukis di pagi itu.
Jakarta belum sepenuhnya terbangun, namun saya belum juga sempat tertidur. Terlebih lagi,
belum juga sampai di rumah. Dengan kecepatan yang tergolong pelan, saya duduk diatas sepeda motor dalam perjalanan
pulang. Akibatnya, kedua mata ini-tanpa kenal keadaan-terus menagih tubuh untuk segera tidur.
Sepersekian detik saya tertidur, dan kemudian
terhentak sadar karena bahaya mulai mengancam. Untuk menghilangkan kantuk yang semakin parah, saya berusaha berfikir.
Berfikir tentang apa saja. Mulai dari hal yang penting sampai yang kacangan-sebuah imajinasi mengenai selangkan.
Tiba-tiba saya berada beberapa meter dari lampu pengatur lalu lintas dan akan segera melintasi zebra-crossnya.
Namun lampu itu segera berubah dari warna hijau menjadi warna kuning dan kemudian berwarna merah,
saat saya akan segera melewatinya. Saya yang sedang terburu-buru akibat kantuk yang sungguh dasyat dan
sadar bahwa petugas pengatur jalan sedang tidak beroperasi, mencoba berkelit dari peraturan.
Mengacuhkan tanda si lampu, dan dengan sengaja menarik lebih kencang pemutar gas alih-alih menginjak rem. Tapi kemudian saya tidak semakin cepat, malahan terhentak dan dalam
keadaan tidak sadar, segera menginjak rem-dan menekan penarik rem- dan langsung berhenti, tidak pas sebelum
zebra-cross, tapi sedikit maju kedepan.
Saya kaget mendengar sepenggal bunyi. Bunyi seperti orang berteriak. Saya yakin sekali
suara itu bukan suara peluit polisi ataupun sirine yang menandakan saya bersalah. tak lama kemudian,
saya segera menyadari sumber bunyi tersebut. Di sebelah kanan saya, terduduklah seorang perempuan lanjut usia
dengan wajah lusuh akibat gerusan panas kota ini, berpakaian compang-camping, memakai topi berwarna putih
yang biasa digunakan petugas keamaan. Terlihat sekali di wajahnya ada setangkap kebanggaan yang tersiar darinya
ketika ia mencoba membetulkan posis topi tersebut ke posisi yang tepat.
Siapapun yang melihatnya pasti bisa menyimpulkan bahwa manusia yang ada
dihadapan saya saat ini, kurang waras. Dengan semangat bung Tomo saat sumpah pemuda, ia berteriak lantang
kepada saya.
"Hei.. Hei.. kamu.. tidak tau peraturan?"
"Ingin mati secepat apa kau?" ia melanjutkan.
"tiga hari yang lalu ada kecelakaan lagi disini, benar-benar mau mati?"
Saya cuma sempat terdiam, menanggapinya.
"Kalo merah b'renti dong"
Setelah itu ia kembali sibuk mengatur lalu lintas di sekitarnya, seperti seorang anggota OSIS sedang mengatur barisan murid pada
upacara hari senin.
Batu-Batu es di kepala saya perlahan mulai mencair, mengantarkan setetes senyuman. Pada awalnya saya yang sudah
terlanjur mencela keadaannya, tersadar pada kenyataan yang terjadi. Kenyataan bahwa pada suatu titik saya
telah kalah telak oleh seorang yang kerap disebut "sampah masyarakat" ini. Ternyata
Kebenaran bisa datang dari siapa saja. Jadi berhentilah menyebut dirimu si paling benar. Dan pelajaran terakhir
yang bisa diambil, Membangung kota ini-lebih lagi negeri ini- bukan melulu dengan menumpas korupsi,
atau sekedar ikut-ikutan mencela kebobrokan yang tengah terjadi atau pula berusaha bijak menjadi seorang
nabi diatas mimbar-mimbar, meneriakkan pembenaran. Tidak, bukan itu. Tapi mulailah dari diri sendiri, dengan menerapkan sikap disiplin. Agar pembangunan bermula dari sebuah atom yang
terkecil dari masyarakat. kalau bukan kita yang membangun kota ini,siapa lagi?
cicit burung-burung yang mengangkasa, bersahutan dengan kokok ayam yang
menandakan gelap sudah berganti terang. Kesejukkan yang datang sehabis
hujan-semalam-mengikutsertakan kedamaian. Kedamaian yang berarti sepi, lancar, sunyi, renggang,
sejenak menenangkan kegaduhan kota ini. Tidak ada polusi. Tidak ada kebisingan. Tidak pula kemacetan. Yang
tampak hanya sketsa kota pedesaan tanpa sawah dan pegungunan,
bukan metropolitan. Semua yang diidamkan untuk kota ini, terlukis di pagi itu.
Jakarta belum sepenuhnya terbangun, namun saya belum juga sempat tertidur. Terlebih lagi,
belum juga sampai di rumah. Dengan kecepatan yang tergolong pelan, saya duduk diatas sepeda motor dalam perjalanan
pulang. Akibatnya, kedua mata ini-tanpa kenal keadaan-terus menagih tubuh untuk segera tidur.
Sepersekian detik saya tertidur, dan kemudian
terhentak sadar karena bahaya mulai mengancam. Untuk menghilangkan kantuk yang semakin parah, saya berusaha berfikir.
Berfikir tentang apa saja. Mulai dari hal yang penting sampai yang kacangan-sebuah imajinasi mengenai selangkan.
Tiba-tiba saya berada beberapa meter dari lampu pengatur lalu lintas dan akan segera melintasi zebra-crossnya.
Namun lampu itu segera berubah dari warna hijau menjadi warna kuning dan kemudian berwarna merah,
saat saya akan segera melewatinya. Saya yang sedang terburu-buru akibat kantuk yang sungguh dasyat dan
sadar bahwa petugas pengatur jalan sedang tidak beroperasi, mencoba berkelit dari peraturan.
Mengacuhkan tanda si lampu, dan dengan sengaja menarik lebih kencang pemutar gas alih-alih menginjak rem. Tapi kemudian saya tidak semakin cepat, malahan terhentak dan dalam
keadaan tidak sadar, segera menginjak rem-dan menekan penarik rem- dan langsung berhenti, tidak pas sebelum
zebra-cross, tapi sedikit maju kedepan.
Saya kaget mendengar sepenggal bunyi. Bunyi seperti orang berteriak. Saya yakin sekali
suara itu bukan suara peluit polisi ataupun sirine yang menandakan saya bersalah. tak lama kemudian,
saya segera menyadari sumber bunyi tersebut. Di sebelah kanan saya, terduduklah seorang perempuan lanjut usia
dengan wajah lusuh akibat gerusan panas kota ini, berpakaian compang-camping, memakai topi berwarna putih
yang biasa digunakan petugas keamaan. Terlihat sekali di wajahnya ada setangkap kebanggaan yang tersiar darinya
ketika ia mencoba membetulkan posis topi tersebut ke posisi yang tepat.
Siapapun yang melihatnya pasti bisa menyimpulkan bahwa manusia yang ada
dihadapan saya saat ini, kurang waras. Dengan semangat bung Tomo saat sumpah pemuda, ia berteriak lantang
kepada saya.
"Hei.. Hei.. kamu.. tidak tau peraturan?"
"Ingin mati secepat apa kau?" ia melanjutkan.
"tiga hari yang lalu ada kecelakaan lagi disini, benar-benar mau mati?"
Saya cuma sempat terdiam, menanggapinya.
"Kalo merah b'renti dong"
Setelah itu ia kembali sibuk mengatur lalu lintas di sekitarnya, seperti seorang anggota OSIS sedang mengatur barisan murid pada
upacara hari senin.
Batu-Batu es di kepala saya perlahan mulai mencair, mengantarkan setetes senyuman. Pada awalnya saya yang sudah
terlanjur mencela keadaannya, tersadar pada kenyataan yang terjadi. Kenyataan bahwa pada suatu titik saya
telah kalah telak oleh seorang yang kerap disebut "sampah masyarakat" ini. Ternyata
Kebenaran bisa datang dari siapa saja. Jadi berhentilah menyebut dirimu si paling benar. Dan pelajaran terakhir
yang bisa diambil, Membangung kota ini-lebih lagi negeri ini- bukan melulu dengan menumpas korupsi,
atau sekedar ikut-ikutan mencela kebobrokan yang tengah terjadi atau pula berusaha bijak menjadi seorang
nabi diatas mimbar-mimbar, meneriakkan pembenaran. Tidak, bukan itu. Tapi mulailah dari diri sendiri, dengan menerapkan sikap disiplin. Agar pembangunan bermula dari sebuah atom yang
terkecil dari masyarakat. kalau bukan kita yang membangun kota ini,siapa lagi?
- Si Pemimpi -

1 Komentar:
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda